Publisher

KEWAJIBAN MENCARI ILMU
Perintah untuk mencari ilmu telah jelas ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.Allah telah memerintahkannya dengan kalimat:
{فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْرْ لِفِذَنبِكَ}
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (Yang berhaq) disembah melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu”. (Muhammad : 19)
Bahkan Allah tidak memerintahkan kita untuk meminta tambahan sesuatu di dunia ini kecuali tambahan ilmu:
( وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا ( طه: ١١٤
“Dan katakanlah: “Wahai Rabbku, tambahkanlah ilmu kepadaku”. (Thaaha : 114)
Rasulullah -shallallahu ’alaihi wa sallam- pun telah mewajibkan kaum muslimin untuk mencari ilmu dengan ucapannya:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim”. (H.R. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih wa dhaif Sunan ibnu Majah 1/296)
Beliau menjelaskan keutamaan pahala menuntut ilmu dengan mengatakan:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara; Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo’akannya”. (H.R. Muslim, Bukhari dalam Adabul Mufrad dan lainnya)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat dan hadits-hadits yang mewajibkan, memerintahkan, dan mendorong kaum muslimin untuk mencari ilmu.
Maka para ulama sejak para Shahabat, para Tabi’in dan para Tabi’it-Tabiin dan seluruh para Imam-Imam Ahlus-Sunnah selalu mengajak dan menganjurkan kaum muslimin untuk mencari ilmu.
Berkata Muadz bin Jabal -radhiallahu ‘anhu-: “Atas kalian untuk mencari ilmu karena sesungguhnya mencarinya adalah ibadah, mempelajarinya karena Allah adalah suatu kebaikan, usahanya kepada para ulama adalah taqorub, mengajarkannya kepada yang tidak mengetahuinya adalah shadaqoh, meneliti dan membahasnya adalah jihad, mengingat ayat-ayat-Nya adalah tasbih (dzikir)”. (Majmu Fatawa 4/42 melalui penukilan Kitab Lamuduril Mantsur hal. 67)
Berkata Ibnu Mas’ud -radhiallahu ‘anhu-: “Atas kalian untuk mencari ilmu sebelum dicabutnya ilmu, dicabutnya ilmu adalah dengan hilangnya para Ulama. Atas kalian untuk mencari ilmu karena sesungguhnya salah seorang kalian tidak tahu kapan dia butuh pada apa yang ada pada para Ulama tersebut. Sebentar lagi kalian akan dapati orang-orang yang mengaku berdakwah kepada Kitabullah padahal ia telah melemparkannya di belakang punggung-punggung mereka. Maka atas kalian untuk mencari ilmu”. (Ushul I’tiqad oleh Al-Laalika’i 1/87 melalui penukilan Kitab Lamuduril Mantsur hal. 68)
Berkata Abu Dzar dan juga Abu Hurairah -radhiallahu ’anhuma-: “Satu bab dari ilmu yang kami pelajari lebih kami sukai daripada seribu rakaat Shalat Sunnah. Satu bab dari ilmu yang kami ketahui -telah diamalkan atau belum diamalkan- lebih kami sukai daripada seratus rakaat Shalat Sunnah”.(Jami Bayanil Ilmi hal.79 melalui penukilan Kitab Lamuduril Mantsur hal. 68)
Berkata Ibnu Mas’ud -radhiallahu ‘anhu-: “Sungguh aku duduk di majelis fiqih (yakni majelis ilmu) sesaat saja, lebih aku sukai daripada puasa sehari dan shalat semalaman”. (Al-Adabus-Syariah 2/41 melalui penukilan Kitab Lamuduril Mantsur hal. 68)
Berkata Ibnu Abbas -radhiallahu ‘anhuma-: “Mengkaji ilmu sesaat saja lebih aku sukai daripada menghidupkan semalaman dengan ibadah”. (Al-Adabus-Syariah 2/41 melalui penukilan Kitab Lamuduril Mantsur hal. 68)
Berkata Said Bin Jubair -rahimahullah-: “Seseorang akan tetap dikatakan berilmu selama dia belajar, ketika dia meninggalkan belajar dan merasa sudah cukup dengan apa yang dia punyai, maka dia menjadi sebodoh-bodoh manusia”.(Al-Fawaidul-Muntaqoh hal.29 melalui penukilan Kitab Lamuduril Mantsur hal. 69)
Berkata Abul Aswad Ad-Duali -rahimahullah-: “Tidak ada sesuatu yang lebih tinggi daripada ilmu, para penguasa adalah pengatur masyarakat, sedangkan para ulama menghukumi para penguasa”. (Tadzkiratus-Saami’ hal.34 melalui penukilan Kitab Lamuduril Mantsur hal. 69)
Berkata Yahya bin Muadz Ar-Raazi -rahimahullah-: “Orang-orang yang berilmu adalah orang yang paling sayang terhadap ummat Nabi Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam- lebih daripada bapak-bapak dan ibu-ibu mereka. Ditanyakan kepadanya: ”Bagaimana bisa begitu?”. “Karena bapak-bapak dan ibu-ibu mereka melindung mereka dari api dunia (bahaya dunia), sedangkan para ulama menjaga mereka dari bahaya api akhirat”. (Mukhtashar Nashihah Ahlul-Hadits hal.167 melalui penukilan Kitab Lamuduril Mantsur hal. 69)
Berkata Wahb ibnu Munabbih -rahimahullah-: “Ilmu akan membuahkan kemuliaan walaupun pemiliknya orang yang rendah, membuahkan kehormatan walaupun pemiliknya dari kalangan terhina, membuahkan kedekatan (dengan Allah) walaupun dia hidup menyendiri, kekayaan walaupun dia miskin, membuahkan kewibawaan walaupun dia orang yang rendah hati”. (Tadzkiratus-Saami’ hal.34 melalui penukilan Kitab Lamuduril Mantsur hal. 70)
Berkata Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i dan juga Sufyan bin Said Ats-Tsauri -rahimahumallah-: “Tidak ada sesuatu setelah kewajiban-kewajiban yang lebih utama dari ilmu”. (Tadzkiratus-Saami’ hal.36 melalui penukilan Kitab Lamuduril Mantsur hal.70)
Berkata Imam Asy-Syafi’i -rahimahullah-: “Mencari ilmu lebih utama daripada Shalat-Shalat Sunnah”. (Musnad Asy-Syafi’i hal.249 melalui penukilan Kitab Lamuduril Mantsur hal.70)
Berkata Sufyan Ats-Tsauri -rahimahullah-: “Celaka kalian! Carilah ilmu! Sungguh aku khawatir ilmu akan pergi dari kalian kepada selain kalian, maka kalian akan menjadi terhina. Carilah ilmu! sesungguhnya ilmu merupakan kemuliaan di dunia dan kemuliaan di akhirat”. (Jami’ Bayanil-Ilmi hal.96 melalui penukilan Kitab Lamuduril Mantsur hal. 71)
ILMU YANG WAJIB ADALAH ILMU AL-QUR’AN DAN HADITS
Yang dimaksud dengan ilmu dalam Ayat dan Hadits dan juga di dalam ucapan para Ulama adalah ilmu agama yang bersumber dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Yaitu mempelajari Al-Qur’an dengan Sunnah-Sunnah, karena Hadits Rasulullah -shallallahu ’alaihi wa sallam-, apakah itu; ucapannya, perbuatannya, ataupun sikap-sikap dan persetujuannya merupakan penjabaran terhadap Al-Qur’an, sehingga mempelajari hadits Rasulullah -shallallahu ’alaihi wa sallam- akan membawa seseorang untuk memahami Al-Qur’an dengan benar.Sebagaimana para Shahabat -radhiallahu ’anhum ajmain- ketika mereka mendengar hadits mereka mengingat-ingatnya dan menghafalnya.
Berkata Anas bin Malik -radhiallahu ’anhu-: ”Ketika kami (para Shahabat) disisi Rasulullah -shallallahu ’alaihi wa sallam- mendengarkan hadits dari beliau, maka kamipun berupaya mempelajarinya di kalangan kami dan mengingat-ingatnya hingga kami hafal”.(Jami’ liakhlaqir-Rawi lil- Khatib Al-Baghdadi 1/236).
Berkata Ali bin Abi Thalib -radhiallahu ’anhu-: ”Ingat-ingatlah dan pelajarilah hadits jangan biarkan ia lenyap”. (Jami’ liakhlaqir-Rawi wa Adabis- sami’ oleh Al-Khatib Al-Baghdadi 1/236)
Demikian pula nasehat Ibnu Abbas -radhiallahu ’anhu- : ”Jika kalian mendengar hadits, maka hendaknya saling mengingat diantara kalian”. (Jami’ liakhlaqir-Rawi wa Adabis- sami’ oleh Al-Khatib Al-Baghdadi 1/236)
Abu Said Al-Khudri -radhiallahu ’anhu- berkata: ”Sampaikanlah hadits dan pelajarilah hadits sesungguhnya hadits itu saling berkaitan satu dengan lainnya”. (Jami’ liakhlaqir-Rawi wa Adabis- sami’ oleh Al-Khatib Al-Baghdadi 1/236).
Yakni dengan satu hadits akan teringat hadits yang lain.
Demikian pula para ulama setelah mereka juga mempelajari Hadits dan menghafalkannya.
Berkata Atha bin Abi Rabbah -rahimahullah- : ”Ketika kami di sisi Jabir bin Abdillah -radhiallahu ’anhu- beliau menyampaikan hadits kepada kami, maka ketika kami keluar dari sisi beliau kamipun berupaya mengulang-ulang haditsnya dan bahwasanya Abu Zubair adalah yang paling hafal di kalangan kami terhadap hadits”. (Jami’ liakhlaqir-Rawi wa Adabis- sami’ oleh Al-Khatib Al-Baghdadi 1/236).
Berkata Ibnu Abdil-Bar -rahimahullah-: ”Sepakat para ulama kaum muslimin bahwa agama ini dikenali dengan tiga ilmu. Mengenali inti keimanan dan keislaman yaitu mengenali tauhid dan keikhlasan. Dan tidak mungkin akan sampai kepada ilmu tersebut kecuali melalui Nabi -shallallahu ’alaihi wa sallam-. Maka dialah yang menyampaikan dari Allah, yang menjelaskan maksudnya serta menjelaskan apa yang ada di dalam Al-Qur’an”. (Jami’ liayanil Ilmi Wa Fadhlih oleh Ibnu Absil-Bar 2/39)
Berkata Al-Hafidz Ibn Rajab -rahimahullah-: ”Setinggi-tinggi ilmu adalah ilmu tentang Allah yaitu ilmu yang mempelajari nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya yang akan menjadikan seorang hamba mengenali Allah dengan benar, khusyu kepada-Nya, takut kepada-Nya, mencintai-Nya, mengagungkan-Nya, memuliakan-Nya, menghambakan diri kepada-Nya dan bergantung kepada-Nya. (Jami’ liBayanil Ilmi Wa Fadhlih 2/39).
Berkata Al-Khatib Al-Baghdadi -rahimahullah-: ”Wajib bagi setiap orang untuk mempelajari apa-apa yang harus dia kerjakan dan harus dia kenali dan apa-apa yang Allah wajibkan sesuai dengan kemampuannya”. (Jami’ liBayanil Ilmi Wa Fadhlih 2/39).
Berkata Al-Hafidz Ibnu Rajab -rahimahullah-: ”Ketahuilah bahwa ilmu tentang halal dan haram adalah ilmu yang mulia yang diantaranya ada yang fardu ’ain untuk dipelajarinya dan ada juga yang fardu kifayah. Namun telah disampaikan oleh para ulama bahwa yang fardu kifayah sekalipun, lebih utama dari semua ibadah-ibadah Sunnah. Seperti dikatakan oleh Ahmad bin Hanbal dan Ishaq ibnu Rahuyah”. (Jami’ liBayanil Ilmi Wa Fadhlih 2/39).
IKHLAS DALAM MENCARI ILMU
Langkah pertama dalam mencari ilmu adalah niat yang ikhlas.Diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah -radhiallahu ’anhu- bahwa ia mendengar Rasulullah -shallallahu ’alaihi wa sallam- bersabda: ”Pada hari kiamat nanti dihadirkan seorang laki-laki yang mati dalam perang fii sabilillah. Kemudian diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat Allah hingga ia mengakuinya. Selanjutnya dia ditanya, “Apa yang telah engkau perbuat di dunia?” Ia menjawab, ”Aku telah berperang demi Engkau (Allah) hingga terbunuh.” Allah berkata, “Dusta engkau! Engkau berperang bukan karena Aku, tapi supaya engkau disebut pahlawan. Kini gelar itu telah engkau peroleh.” Lalu orang itu diseret ke neraka dengan wajah tersungkur.
Kemudian didatangkan orang kedua yakni seorang laki-laki pembaca Al-Qur’an (Qoori’), rajin menuntut ilmu dan selalu mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Lalu dia ditanya, “Apa yang telah engkau perbuat?” Dia menjawab, ”Aku mempelajari berbagai ilmu dan menerangkannya kembali kepada manusia dan aku juga sering membaca Al-Qur’an karena-Mu.” Allah menjawab, ”Dusta engkau! Engkau belajar dan mengajar bukan karena Aku. Bacaan Al-Qur’anmu juga bukan karena Aku. Engkau belajar dan mengajar agar dikatakan pintar dan orang ‘alim. Kini sebutan itu telah engkau peroleh. Bacaan Al-Qur’anmu juga bukan karena Aku, tapi agar engkau diberi gelar Qoori’ dan itu telah engkau dapatkan.” Kemudian iapun diseret ke neraka dengan wajah tersungkur.
Setelah itu didatangkan pula orang yang ketiga, yaitu seorang laki-laki yang diberi kelapangan hidup dan berbagai jenis harta kekayaan. Kemudian diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat Allah hingga ia mengakuinya. Kemudian ia ditanya, “Apa yang telah engkau perbuat?” “Aku telah menginfakan seluruh hartaku dijalan yang engkau sukai dan semuanya karena-Mu.” Jawabnya. Allah berkata: “Dusta engkau! Engkau melakukan itu agar dikatakan dermawan. Dan itu telah engkau peroleh.” Akhirnya dengan wajah tersungkur dia juga diseret ke neraka”. (H.R. Muslim)
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dalam Sunannya juga dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah -shallallahu ’alaihi wa sallam- bersabda:
”Sesungguhnya seseorang yang mempelajari ilmu yang semestinya dipelajari dengan mengharapkan wajah Allah, namun dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan keuntungan dunia. Maka dia tidak akan mendapati harumnya surga di hari kiamat”. (H.R. Ibnu Majah)
Ibnu Majah mengeluarkan pula dengan sanad yang shahih sampai kepada Jabir bin Abdillah -radhiallahu ’anhu- bahwasanya Rasulullah -shallallahu ’alaihi wa sallam- bersabda:
”Janganlah kalian mempelajari ilmu untuk berbangga-bangga dan mengalahkan para ulama, jangan pula untuk menipu orang-orang Sufaha (bodoh), jangan pula untuk membuka majelis-majelis. Barangsiapa yang meniatkan karena itu maka nerakalah, nerakalah”. (H.R. Ibnu Majah)
Disebutkan oleh As-Sindy -rahimahullah- bahwa dalam Majma Zawaid dijelaskan rawi dalam sanad ini semuanya tsiqoh, dikeluarkan pula oleh Ibnu Hibban dan Hakim. (Hasyiah As-Sindy ‘ala Ibni Majah 1/236)
Peringatan-peringatan Rasulullah ini merupakan ancaman bagi siapa yang lebih mementingkan keuntungan dunia daripada akhirat, yang demikian tercakup dalam ayat Allah -Subhanahu waTa’ala-:
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu Sekehendak Kami bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir”. (Al-Israa : 18)
Berkata Al-Khatib Al-Baghdadi -rahimahullah-: ”Wajib bagi para pencari ilmu untuk mengikhlaskan niatnya dalam mencari ilmu hanya mengharapkan wajah Allah, hati-hati jangan sampai menjadikannya sebagai jalan untuk mencari dunia atau mengharapkan imbalan”. (Jami’ Liakhlaqi Rawi wa Adabis- sami’ 1/81-85)
Berkata Abdullah bin Mubarak -rahimahullah-: ”Awal ilmu adalah, niat kemudian mendengar, kemudian memahami, kemudian menghafal, kemudian mengamalkannya, kemudian menyebarkannya”. (Jami’ Bayanil Ilmi Wa Fadhlih oleh Ibnu Abdil-Bar 1/118)
Berkata pula Al-Khatib Al-Baghdadi -rahimahullah-: ”Hendaklah seseorang menjauhi kesombongan dan berbangga dengan ilmu dan janganlah memiliki tujuan untuk menjadi pemimpin atau mencari pengikut atau agar bisa membuka majelis ilmu! Karena sesungguhnya penyakit yang masuk di tengah-tengah orang berilmu adalah sejenis ini”. (Jami’ Liakhlaqi Rawi wa Adabis- sami’ 1/81-85)
Risalah Dakwah Manhaj Salaf Edisi 34/th.IV 21 Djulhijjah 1429 H/19 Desember 2008 M
Sumber:
http://www.salafycirebon.com/nasehat-para-ulama-untuk-mencari-ilmu-i.htm
http://www.salafycirebon.com/nasehat-para-ulama-untuk-mencari-ilmu-ii.htm
http://www.salafycirebon.com/nasehat-para-ulama-untuk-mencari-ilmu-iii.htm
Sumber: direktori.ahlussunnahkendari.com/Artikel-Islami/Manhaj/Nasehat%20Para%20Ulama%20Untuk%20Mencari%20Ilmu.html
Disunting tanpa mengurangi maknanya.
Gambar dari publisher telegraph.